Thursday, 9 July 2020

Preggo Story: Janji Tuhan Nyata! Bayi Sungsang berubah Posisi

6 September 2019

Hari ini saya dan Mas Zack, suami saya, datang ke Klinik Kita bukan untuk kontrol, melainkan untuk secara khusus meminta rujukan ke RS. Kenapa baru hari ini, bukan di minggu lalu bersamaan ketika kontrol ke dokter? Karena BPJS saya baru aktif hari ini. Sekalian saya mau mencoba berobat menggunakan fasilitas BPJS untuk pertama kalinya. (Sebelum-sebelumnya saya selalu menggunakan biaya pribadi.)

Dalam seminggu ini saya sudah mencoba berikhtiar dan berdoa semampu saya. Dan hari ini--pada usia kehamilan ke 37 minggu--adalah penentuan, bisa atau tidaknya saya melahirkan secara normal. Saya dan Mas Zack sudah jauh lebih ikhlas, bahkan jika memang harus menempuh jalur operasi caesar. Toh operasi juga salah satu proses melahirkan, yang penting bayi kami sehat dan lahir dalam kondisi terbaik, begitu pikir kami.

Setelah mendapat rujukan, sore itu juga kami ke RSIA Bunda Aliyah Depok. Salah satu rumah sakit rujukan yang direkomendasikan oleh klinik karena fasilitasnya yang lengkap. Saya sudah melakukan pencarian mengenai RS tersebut dan menemukan dokter perempuan yang saya rasa cocok, jika melihat banyaknya review positif di internet. Ia adalah dr. Maria Ulfa, Sp.Og.

***

Singkat cerita, masuk ke ruang dokter, beliau membuka pembicaraan,

"Ini dirujuk kenapa, Mbak?"

"Ini, Dok... Posisi bayinya bokong di bawah."

"Oh, sungsang. Coba kita lihat dulu, yuk," ajak dr. Maria sambil mempersilakan saya berbaring di tempat tidur.

Pembawaan dr. Maria terlihat sangat santai, tidak ada raut atau intonasi yang membuat saya semakin khawatir. Dan tak sampai lima menit beliau menempelkan alat USG ke perut saya, satu kalimat yang membuat saya langsung ingin sujud syukur pun beliau ucapkan.

"Lho, ini kepalanya di bawah kok..."

"HAH? Iyakah, Dok? Beneran?" tanya saya terkejut.

"Iya. Sus, coba liat deh, ini kepala kan?" tanya beliau kepada suster yang berada di ruangan.

Saya dan Mas Zack hanya bisa berpandangan, mata saya berkaca-kaca.

"Masya Allah. Alhamdulillah..."

Entah keajaiban apa yang terjadi. Seminggu lalu terakhir saya kontrol,  kepala bayinya posisi di bawah, dan sekarang, seminggu kemudian, bayi saya telah menemukan posisi terbaiknya. Allah sungguh Maha Kuasa. Terima kasih ya, Nak.

"Masih 37 minggu kan? Masih ada waktu, lahiran normal aja," tambah dr. Maria yang alhamdulillah ternyata memang pro-normal.

Di titik itu saya merasakan bahwa Allah begitu dekat. DIA mendengar dan mendampingi saya di setiap langkah. Namun mengapa sebagai manusia saya sering meragukan janji-Nya?

Kami pun pulang dengan langkah yang terasa sangat ringan. Seakan satu mimpi buruk berhasil terlewati. Beban kami berkurang satu, kini tinggal berdoa dan berikhtiar untuk proses persalinan normal yang aman juga nyaman. Bismillah.

***

Di sini saya juga ingin membagikan apa saja upaya yang saya coba dalam seminggu setelah didiagnosis sungsang. Meskipun saya tidak tahu pasti langkah mana yang berhasil, di hari ke berapa bayinya berputar, dan tentu tak luput dari kuasa Tuhan, namun semoga membantu para bunda yang sedang menghadapi tantangan yang sama.

1. Bersujud yang lama
Ketika sholat dan setiap habis sholat, saya selalu meluangkan waktu untuk bersujud cukup lama. Namun tidak usah dipaksakan langsung lama, sekuatnya saja, yang penting konsisten. 10-15 menit cukup.

Sedikit cerita, memasuki usia kehamilan minggu ke-36, saya sering sekali terbangun (atau lebih tepatnya "merasa dibangunkan") tiba-tiba di tepat pukul 02.00 atau 03.00 dini hari. Awalnya terbangun karena diare, namun setelahnya tidak ada alasan khusus. Jadi saya memanfaatkan kesempatan itu untuk melakukan sholat malam dan bersujud semampu saya. Dalam sujud, saya sambil berdoa dan berserah diri pada Allah.

2.  Melakukan posisi dan gerakan yoga untuk mengoptimalkan posisi bayi
Ada keajaiban juga sebelum saya melakukan yoga ini. Di saat saya sedang down dengan kemungkinan akan melahirkan caesar, tiba-tiba muncul post bidan Jamilatus Sadiyah (@jamilatussadiyah) di timeline Instagram saya. Post itu berupa cuplikan video tentang penjelasan posisi bayi yang optimal. Berikut videonya:


Di situ saya merasa bahwa Allah sedang memberi saya petunjuk. Menggugah saya untuk bangkit dan nggak menyerah.

Maka saya langsung melakukan pencarian di YouTube.


Dan ini adalah beberapa video yang saya jadikan referensi untuk gerakan dan tips memutar bayi sungsang:




3. Menerapkan afirmasi positif dan ajak bayi berinteraksi
Percayakah Bunda, bahwa bayi di dalam perut sudah bisa mendengar dan merespon interaksi dari kita? Saya sangat percaya hal itu. 

Tidak akan Allah berikan masalah lebih besar dari yang bisa kita pikul. Dan Allah menjanjikan akhir yang indah untuk hambanya yang ikhlas dan bersabar.

Selamat berjuang, Bunda yang hendak memasuki fase kehidupan baru. Apapun hasil akhirnya, bagaimanapun proses lahirnya, kita harus tetap syukuri. Karena Allah Maha Tahu yang terbaik. Dan selama Bunda dan si bayi sehat, that is all that matters! 

Tuesday, 3 September 2019

Preggo Story: Bayi Sungsang dan Komentar Orang

Pagi ini saya bangun dengan kepala sedikit berat. Malam tadi, saya baru bisa terlelap setelah pukul 3 pagi, setelah sebelumnya menangis sulit berhenti.
Telepon masuk dari mama, seolah bisa merasakan kegelisahan anaknya dari jauh.

"Gimana kondisi bayinya, Nak?"

"Sehat, Ma. Tapi... ya... terakhir USG, kepalanya masih di atas..."

Tenggorokan saya tercekat, air mata mulai mengaburkan penglihatan. Rasanya kekuatan baru yang saya pupuk sejak bangun tadi, sirna begitu saja begitu mendengar suara mama.

Memang, sudah dua kali sesi USG dalam dua minggu ini, dokter selalu menyatakan bahwa bayi saya dalam presentasi bokong, atau posisi bokong di bawah. Bahkan dalam sesi USG terakhir, dokter sudah tampak khawatir dan takut mengambil resiko, sehingga menyarankan saya untuk dirujuk ke RS dan dijadwalkan operasi caesar karena kondisi bayi yang sudah masuk minggu ke-36.

Hasil USG 4D janin saya di minggu 29

Friday, 23 February 2018

I Had A Sister at School

Kalau lagi sendirian, atau melakukan sesuatu yang monoton, pasti biasanya otomatis otak udah lari ke mana-mana. "Lari ke mana-mana" dalam artian kepikiran hal-hal yang ngga semestinya dipikirin kayak,

"Wait, waktu hari Senin ada kejadian X kan ya. Terus kenapa saya bereaksi begitu ya? Seandainya saya merespon dengan cara lain seperti A B C D, kira-kira apa yang bakal terjadi ya?"

Atau tiba-tiba keinget memori random yang udah lama banget. Kayak barusan, tiba-tiba keinget momen dulu waktu kelas 1 SMA. Iya, otak langsung memvisualisasikan suasana di sebuah sekolah negeri di Jakarta, lingkungan yang hanya saya rasakan 1 tahun.

Tiba-tiba keinget dulu ada seorang kakak kelas 3 perempuan yang super-baik. I remember this sentence of hers that time,

"Kamu mau nggak jadi adek aku di sekolah?"

Thursday, 5 October 2017

4 Perfect Moments Versi Kanya di Launching VIVO V7+

Sebagai kawula muda slash netizen yang agak kekinian, saya termasuk salah satu dari banyak orang yang seneng banget mengabadikan momen dalam bentuk visual. Capture sana, capture sini. Shoot sana, shoot sini. Mungkin karena saya desainer juga kali ya, jadi merhatiin detil apa-apa yang ditangkep mata. Apalagi sekarang lagi zaman bikin feed Instagram yang rapi gitu, jadi selain momen yang perfect, gimana caranya saya juga harus mikir cara dapetin gambar yang visually perfect (for the feed). Alhasil ke mana-mana wajib bawa kamera yang bikin tas jadi menggembung segembung pipi saya.

Minggu lalu kebetulan dapet invitation buat hadir di acara grand launch VIVO V7+. Ini pertama kalinya seumur hidup saya dateng ke acara grand launch produk, and I was super excited!

Kayak apa sih acara grand launch VIVO V7+ yang rame dibicarain sampe sempet jadi Trending Topic di Twitter itu? If you wonder how it was like, di sini saya mau rangkum semua perfect moments yang berkesan buat saya. Check it out!

Friday, 22 September 2017

Against The Current Live in Indonesia: Sound System Problem?!

Been a fan of Against The Current since years ago, I forgot what year exactly, since they were still a YouTube-cover-musician. I first knew Chrissy Costanza (the vocalist) from her collaboration with Kurt Hugo Schneider and Alex Goot. She was very young (and little) back then. A small girl with big scream! Haha. Love it, though.

This was one of my favorite video covers of the 18 years-old-Chrissy (4 years ago):


But my admiration to Chrissy and Against The Current got deeper since I first found out their biggest hit single, Gravity (2015). I then listened to their other original songs from Infinity EP, Gravity EP and finally... IN OUR BONES ALBUM (2016)!

Their pop-rock genre is actually a bit not mainstream for a person like me, who always listen to Disneys, orchestras or sometimes anime soundtracks. It is the energy, the fire within their songs which burn something inside me, and kept my head up through hard times. So, when they announced their "In Our Bones Tour"to Indonesia, I was like... I NEED TO BUY THE TICKET. PERIOD.


So there I was. MS Hall, Jakarta. Front row. September 17, 2017.

Sunday, 26 March 2017

How Does It Feel to Be An Outsider?

It's been a long time since the last time I wrote here. Well, 4 months ago, and it was my ONLY post in 2016 and blah blah blah blah blah whatsoever. Intinya, HEY, NICE TO SEE YOU AGAIN, BLOG! :)

Kehidupan dan segala macam kesibukan yang membuatnya berarti sudah membawa saya jauh sekali dari dunia per-blog-an. Ya, sekilas cerita mengenai salah satu hal yang membuat saya very bizzzzi belakangan ini sudah sempat dijelaskan di post sebelumnya ya. Please kindly take a time to read it if you're curious.

Saya rasa saya udah nggak jago buat ngelucu (or let's call it "ngegaring") di blog lagi. Bahkan menulis serius pun saya ragu masih inget caranya. But thanks God, saya masih inget cara menulis dengan EYD dan tanda baca yang benar. Hahaha.

---

Barusan sekali, saya menemukan tulisan menarik di salah satu blog lama saya. (Yes, I had several blogs in different platforms for different purposes. What a neatly planned social media person, ain't I?) Tulisan yang saya tulis 3 tahun lalu dengan judul "Apakah Menjadi Populer Menyenangkan?". Whoops, too big. Sorry not sorry.

Kalau kalian melihat saya sekarang dan melabeli saya dengan embel-embel "hits", "populer", "artis" atau apapun itu, kalian perlu membaca tulisan saya tersebut. Tulisan itu menjelaskan sekali seperti apa saya tiga tahun yang lalu dan, jika mau flashback lebih jauh, ketika SMA dulu.

Kalau beberapa dari kalian pernah punya perasaan "berbeda", "dipandang berbeda" atau bahkan "entah kenapa meskipun sudah berusaha menjadi normal tetap saja tidak bisa seperti mereka", hey, you're not the only one who think that!

Outsider. (c) Me.

Monday, 7 November 2016

Festival Dongeng Internasional di Indonesia?


Benar!
Tentu saja Festival Dongeng Internasional Indonesia!

Ha ha ha ha ha.
*maksa*


Tahun 2016 ini baru pertama kalinya saya ikut Festival Dongeng Internasional Indonesia (FDII) dan langsung dipercaya untuk jadi salah satu dari tim pendongeng lokal, satu hal yang saya pikirkan: saya harus menampilkan yang terbaik! Melihat konsep dan cerita kakak-kakak tim pendongeng sempat membuat saya gugup dan meragukan kemampuan sendiri. Tapi akhirnya Echa dan saya, dalam format duo Sarang Cerita, berlatih dengan giat supaya bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan baik.

Monday, 12 October 2015

Sepatu Baru untuk Kanya

Ternyata udah 2 tahun sejak saya nulis di blog tentang mulai belajar peka soal fashion, ya. Sebenernya sampai sekarang pun masih ada saat-saat di mana saya cuek atau kurang peka sama apa yang saya pakai sih. Biasanya Harli, sahabat saya, yang selalu melontarkan komentar,

"Ya ampun. Kamu tuh cantik, coba kalau jilbabnya diginiin deh. Atau coba pake baju kayak gini."
*sambil nunjukin foto-foto fashion blogger referensinya atau malah langsung gerak ngebenahin outfit saya*




Monday, 22 June 2015

Hasrat

Iri takkan membawamu ke mana.
Jika kau ingin, maka berusahalah.
Jika belum tercapai, maka bersabarlah.

Perlahan tapi pasti.
Bukan cepat lalu terhenti.



Saturday, 28 March 2015

Mengejar Mimpi, Sekarang atau Nanti?

Ditulis Oktober 2014.



Cerita ini bermula dari sebuah percakapan di jejaring sosial dengan seorang teman satu jurusan saya yang kebetulan sudah wisuda dua bulan lalu dan kini sudah bekerja di salah satu kantor konsultan arsitek di Jakarta. Saat itu, selepas petang, kami berbincang mengenai banyak hal, mulai dari tugas akhir hingga cita-cita selepas lulus kuliah.


"Kamu rencana mau nyari kerja di kota A apa di kota B nanti, Nya?" tanyanya membuka percakapan serius tersebut.

"Abis wisuda aku kepingin langsung nyari beasiswa S2 sih rencananya."

"Woh, mantap. Kamu nggak mau kerja dulu aja? Siapa tau S2-nya bisa dibiayain perusahaan. Aku sih kerja dulu di Jakarta, Nya."

"Hahaha. Awalnya aku juga mikir gitu. Tapi mumpung lagi semangat-semangatnya nih. Toh kalau dapet beasiswa juga dibayarin, kan?" ujar saya tanpa ragu.

"Soalnya aku mau ambil S2 DKV prodi graphic design atau digital design, biar nanti bisa langsung kerja di advertising atau semacamnya," tambah saya.


Menjadi seorang desainer visual sudah menjadi impian saya sejak lama. Bahkan ketika saya masih sekolah dulu, sering sekali saya menulis "komikus" atau "animator" sebagai cita-cita saya. Meskipun saat itu bahkan saya belum tahu benar seperti apa pekerjaan komikus dan animator.

Monday, 23 March 2015

"Hati-hati kalau bermain hati."


Senja yang berawan. Saya sedang menghabiskan waktu membaca buku sambil sesekali menyesap secangkir kopi putih dan menyuap spaghetti di sebuah kafe. Tujuan saya mencari kafe sore itu selain untuk mengisi perut, memang untuk menikmati me-time. Sudah lama sekali sejak terakhir kali saya menyendiri dengan buku da secangkir minuman hangat. Sore yang dingin ini adalah waktu yang tepat, pikir saya, karena kebetulan saya juga ingin rehat sejenak setelah mengerjakan beberapa pekerjaan di depan laptop.

Kafe tempat saya duduk itu sepi. Pengunjungnya hanya saya seorang. Entah karena kafe tersebut terhitung masih baru sehingga belum banyak orang ke sana, atau memang sebagian besar orang lebih memilih untuk menghabiskan waktu di kamar dalam cuaca seperti itu. Saya tidak peduli. Memang bukan keramaian yang saya cari. Saya bahkan tidak memperhatikan tetes gerimis air hujan yang mulai jatuh ringan, membuat pola titik-titik pada motor dan helm saya yang di parkir tepat di depan kafe. Terlalu asik tenggelam dalam dunia sendiri dengan buku novel fiksi koleksi baru saya - yang dihadiahkan seorang teman dekat ketika saya wisuda bulan lalu namun baru sempat saya sentuh beberapa hari ini. Sampulnya bergambar daun besar, karya penulis ternama, Tere Liye.

Saya baru akan membalik halaman ketika tiba-tiba sebuah notifikasi pesan WhatsApp mengusik fokus saya. Rupanya dari seorang teman lama, sebut saja Tian. Sedikit heran, mengapa tiba-tiba ia men-japri saya dan menanyakan apakah saya akan balik ke Bekasi setelah lulus ini atau tidak.

“Belum, Yan. Masih ada yang harus kukerjakan di Jogja. Kenapa tiba-tiba nanya gitu?”

“Lo jangan marah tapi ya.”


“Eh? Kenapa?” tanya saya semakin heran.


Saturday, 1 February 2014

Kalau Ikut Kuis Kepribadian Ini, Kamu Bisa Jadi Harry Potter

Belakangan ini banyak banget yang nge-share link tes kepribadian gitu di media sosial. Dan itu semua mengundang rasa penasaran Kanya si gadis lugu nan kepo ini untuk nyoba. Kan nggak keren aja gitu kayaknya, yang lain pada nge-share terus cuma kamu sendiri yang nggak ikutan. Nanti dicap cupu. Atau sial-sialnya malah diasingkan dari pergaulan terus diarak keliling desa gara-gara nggak ikut tes.

Tes-tes kayak gitu tuh semakin hari semakin beragam. Dulu padahal waktu masih sekolah, sekitar empat tahun yang lalu, zaman lagi rame-ramenya kuis di Facebook, soal kuisnya paling cuma kisaran "termasuk siswa yang seperti apakah kamu?" atau "pekerjaan apakah yang cocok di masa depan?" Tapi sekarang karena udah makin banyak yang ikutan bikin kuis, makin banyak saingan, jadi para pembuat kuis mulai mikir gimana caranya biar orang-orang tetep ikutan kuis mereka. Akhirnya dibuatlah soal yang unik-unik. Biasanya sih dikaitin sama film-film gitu. Soalnya jenis film kan bertambah terus, jadi idenya juga nggak bakal abis. Judul kuisnya pun dibikin seseru mungkin, misalnya kayak "termasuk karakter di Harry Potter yang manakah kamu?" sampe "termasuk spesies langka apakah kamu?" atau "termasuk halaman skripsi berapakah kamu?"

Yakeleus.


Secara pribadi, saya emang paling seneng sih ikut tes kepribadian kayak gini. Mulai dari tes kepribadian yang teruji kayak yang ada di buku-buku atau MBTI (Myers-Briggs Test Indicator) udah pernah dicoba. Apalagi yang cuma iseng-iseng, yang ngerjainnya cuma beberapa menit. Itung-itung buat lebih mengenal diri sendiri lah. Karena nggak bisa mengerti diri sendiri itu nggak enak. Kan nggak lucu kalo kamu ngertinya kamu tuh Power Renjes, eh ternyata kamu sebenernya Satria Baja Hitam.

Buat yang jarang atau belum pernah ikutan kuis kepribadian, coba deh sekali-sekali ikut. Soal tesnya nggak susah kok. Biasanya paling cuma nyangkut kehidupan sehari-hari aja. Jawabnya juga nggak perlu dibuat-buat, cukup ngalir aja apa yang kamu rasa paling sreg sama diri kamu.

Misalnya soal kayak gini:



Terus kamu bisa dapetin hasil kayak gini. Hore.



Format layout kuisnya juga nggak semuanya ngebosenin kok. Ada yang visualnya didesain semenarik mungkin, dikasih foto, meskipun kadang nggak nyambung sama soalnya. Masak soalnya unyu-unyu gambarnya nyeremin gini:


Tapi tetep hasilnya lumayan memuaskan kok. Yah, paling enggak, si pembuat kuis udah berbaik hati mau mirip-miripin kamu sama Harry Potter. Kapan lagi di dunia nyata kamu bisa ngaku-ngaku setipe sama Harry Potter tanpa disiram sebaskom londrian sama tetangga kos?


---------------
Nih, buat yang mau iseng ikutan kuisnya.

Untuk kuis "Which Which" yang lainnya cari aja di Google ya. Bye. :*


Monday, 9 December 2013

Inginku Bernyanyi, Malah Toples Kubawa Pulang

Rencana awal sih mau nyanyik kolaborasi digitarin sama temen di acara akustikan kampus, tapi ternyata acaranya malah dangdutan.

Kemudian yang terjadi malah.......




Lomba goyang Caesar.
Alias ada kesalahpahaman antara "akustikan" sama "dangdutan" sama penyedia musiknya. OK.


...malah juara joget terheboh. Dapet hadiah. Toples.
Bentar SMS emak dulu sapa tau butuh.


Gitu deh.

Bye. ( ._. )

*nenteng toples*

Friday, 26 July 2013

Chat Absurdity: :O (Omegle)




 Takut dibom.
Klik untuk memperbesar gambar :|






Chat Absurdity: Kanya as Jeremy Teti (Facebook Group Chat)




#prayformouseunyu

Mouse saya mendadak tombol scroll-nya nggak bisa dipakai lagi. Tolong dibantu doa ya supaya bisa bekerja normal lagi dan nggak perlu berpindah hati ke mouse baru. :'(

Kasihan dia, udah selalu jadi korban kesalahsangkaan teman teman kampus dan kerja, masak IKAN PAUS LUCU gini dibilang KECEBONG? KODOK? IKAN DUGONG? HAH?


#prayformouseunyu


Wednesday, 24 July 2013

Aku Menunggumu, Lelaki Kedua dalam Hidupku

Membaca blog Mbak Falla selalu berhasil membuatku senyum-senyum sendiri. Terutama post-nya belakangan ini yang menjelaskan proses detil mengenai pernikahannya.

Aku jadi berpikir, "Kapan ya, giliranku?"


But, hmmm, menikah? Sounds... Weird?




***




Akan datang hari di mana kamu menemukan lelaki kedua yang kamu cintai, menjadi panutanmu dan sandaran hidupmu.

Kedua, setelah ayahmu.

Hari itu, di mana laki laki itu sah memegang tanggung jawab menjagamu menggantikan ayahmu, pasti adalah hari di mana sang ayah merasa cemburu.


Cemburu karena gadis kecilnya yang dulu ia peluk ketika menangis namun selalu didorong untuk kuat berdiri sendiri, telah menemukan imamnya.


Cemburu karena ia bukan lagi satu satunya lelaki yang boleh menyentuhmu. Sekaligus terharu, melihat gadis kecilnya telah tumbuh dewasa.

Ilustrasi dad-daughter relationship. Sumber: google.com

Aku bisa melihat tatapan itu saat pertama aku mulai memperkenalkan seorang lawan jenis padanya. Sedih, haru, bahagia. Tak terdeskripsikan.


Tapi, kapanpun "hari itu" datang dan siapapun orang yang nantinya menjadi objek nyata dalam tulisanku, semoga ia adalah yang terbaik. :)




***




Kita bukan anak kecil lagi.

Harus kuakui bahwa aku menunggumu. Iya, kamu, lelaki di masa depanku.


Aku selalu ingin tahu...

Kamu, yang akan jadi lelaki kedua dalam hidupku, sekarang sedang apa? Sedang menungguku jugakah?

Sabar ya.

Kita akan bertemu, segera. Sesegera setelah kita masing-masing menyelesaikan tanggung jawab kita sebagai seorang anak dan membahagiakan orang tua kita. Sesegera setelah mereka butuh kesempurnaan kebahagiaan dengan melihat kita bersanding, atau bahkan, menggendong sesosok makhluk mungil dalam dekapan kita.



Masa depan itu tampak samar, memang. Tapi cuma kita yang bisa merencanakannya dan menjadikannya nyata. Jadi, bersiaplah, dear kamu. :)


Tuesday, 18 June 2013

CEWEK INI KEBAKAR!

Sesuai dengan judulnya, ya, kamu bisa nebak bahwa subyek di post kali ini adalah cewek. Tapi, enggak, si cewek itu nggak bener-bener kebakar. Kecuali kalau blog yang lagi kamu baca adalah blognya anak cucu Limbad.

Jadi, semua kekacauan serta huru-hara hari ini dimulai dari sebuah lagu original Alicia Keys yang berjudul Girl on Fire. Sebenernya semuanya bakal berjalan damai, kalau aja NGGAK ADA ORANG GILA YANG NERJEMAHIN LAGU ITU KE DALAM BAHASA INDONESIA PAKE GUGEL TRANSLET. Iya, sekali lagi, PAKE GUGEL TRANSLET!

Buat yang belum denger, coba siapin telinga, hati dan pikiran sebelum klik tombol play ya. Atau kamu bakal selesai dengerin lagu ini sampe detik 3.44 dengan mata melotot dan mulut berbusa.





Manusia manusia kece yang berjasa bikin saya ngakak sampe lemes sepagian gara gara nge-post lagu ini adalah para member grup Facebook Bukan Indonesian Idol -- yang belakangan saya ketahui ternyata mereka jauh lebih lucu daripada tokek main gundu. Mereka memang luar biasa. Mereka patut mendapat hadiah. :')

Dan, entah gimana ceritanya, dalam beberapa jam, si makhluk planet Namec bernama Aryanata Razki ini udah jadi trending topic di grup BII. Nggak cuma satu dua post ngomongin dia. Mensyen ke dia bertebaran di mana mana. Sayangnya saya cuma bisa ngikutin penanjakan modus modus member BII ke bang Aryan sampai siang, karena setelah itu saya ditumpuki berbagai kegiatan dan jadwal yang harus dikerjakan. Sampai malam harinya, jam 10-an, saya pulang ke kos, buka laptop dan mendapati puluhan notif fesbuk menggentayangi. Pas saya buka, rupanya alien yang jadi trending topic itu udah nanggepin hampir semua komen para member (baca: fans barunya) di sana. Saya cuma geleng geleng kepala, ber-huuuft panjang dan........ GAMAU KALAH IKUTAN NGEPOST KOMEN DI SANA. PAKE CAPSLOCK.

Iya lah. Siapa sih yang mau ketinggalan ngata ngatain makhluk macem dia? Hahahahaha. Tapi modus cari perhatian yang berkedok itu nggak cuma lancarkan di FB, tapi juga di Twitter. Kurang annoying apa lagi cobak saya? Pffft. Soalnya di sisi lain, temen saya juga udah terlanjur nge-twitpic printscreen chat saya sama dia soal bang Aryan. Dan dibales.


Ini printscreen-nya. Meh.


Akhirnya, setelah perhatiannya saya tarik di sana sini, bang Aryan yang (selalu ditakdirkan) tertindas secara sukarela ngebales komen saya di FB, meskipun nggak saya mensyen. Komennya adalah .......




And I was like .......






Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...