Senja yang berawan. Saya sedang menghabiskan waktu membaca buku sambil sesekali menyesap secangkir kopi putih dan menyuap spaghetti di sebuah kafe. Tujuan saya mencari kafe sore itu selain untuk mengisi perut, memang untuk menikmati me-time. Sudah lama sekali sejak terakhir kali saya menyendiri dengan buku da secangkir minuman hangat. Sore yang dingin ini adalah waktu yang tepat, pikir saya, karena kebetulan saya juga ingin rehat sejenak setelah mengerjakan beberapa pekerjaan di depan laptop.
Kafe tempat saya duduk itu sepi. Pengunjungnya hanya saya seorang. Entah karena kafe tersebut terhitung masih baru sehingga belum banyak orang ke sana, atau memang sebagian besar orang lebih memilih untuk menghabiskan waktu di kamar dalam cuaca seperti itu. Saya tidak peduli. Memang bukan keramaian yang saya cari. Saya bahkan tidak memperhatikan tetes gerimis air hujan yang mulai jatuh ringan, membuat pola titik-titik pada motor dan helm saya yang di parkir tepat di depan kafe. Terlalu asik tenggelam dalam dunia sendiri dengan buku novel
fiksi koleksi baru saya - yang dihadiahkan seorang teman dekat ketika saya wisuda bulan lalu namun
baru sempat saya sentuh beberapa hari ini. Sampulnya
bergambar daun besar, karya penulis ternama, Tere Liye.
Saya baru akan membalik halaman ketika tiba-tiba sebuah
notifikasi pesan WhatsApp mengusik fokus saya. Rupanya dari seorang teman lama,
sebut saja Tian. Sedikit heran, mengapa tiba-tiba ia men-japri saya dan menanyakan apakah saya akan balik ke Bekasi setelah
lulus ini atau tidak.
“Belum, Yan. Masih
ada yang harus kukerjakan di Jogja. Kenapa tiba-tiba nanya gitu?”
“Lo jangan marah tapi ya.”
“Eh? Kenapa?” tanya saya semakin heran.
“Ada temen kantor gua mau kenalan. Hahaha. Temen
sepermainan,” balasnya dengan menyertakan emoticon
tertawa sampai berair mata - atau menangis bahagia? Entahlah. Yang jelas
kalimat tersebut hanya diikuti balasan berupa titik-titik banyak dari saya,
yang menandakan saya bingung harus menjawab apa. Yang dimaksud kantor Tian adalah sebuah kantor badan pemerintah yang bergerak di bidang jasa keuangan. Dari cerita yang saya dengar sewaktu bertemu Tian beberapa bulan lalu, kantor tersebut sangat banyak diminati oleh fresh graduate karena gaji pokoknya yang besar.
Dia bercerita bahwa temannya tertarik begitu melihat foto
saya di daftar teman Facebook-nya, lalu memintanya untuk diperkenalkan pada
saya.
“Ho’oh. Tiba-tiba aja manggil gua terus nanyain lo.”
“Hajar wesss. Masa depan terjamin sama anak O*K. Hahaha,”
sambungnya.
Saya tidak berniat menanggapi obrolan Tian dengan terlalu
serius – malah lebih banyak diselipi gurauan. Tapi saya juga tidak
semerta-merta membentengi diri lalu melarangnya memberikan kontak pada temannya
itu. Tidak ada salahnya membuka pintu untuk berrelasi lebih luas lagi, pikir
saya.
“Ya udah, kalau mau kenalan ya kenalan aja. Temenan dulu.”
“Tapi jangan di-friend
zone-in si Abang gua.”
“Lah, friend zone
gimana? Aku belum berencana menikah dalam waktu dekat lho.”
“Waelah, sampe sejauh itu. Perasaan di Twitter ngomongin
jodoh mulu. Hahaha.”
“Laaah, itu mah mengikuti selera pasar aja. Nggak
ngebet-ngebet banget kok.”
“Ngebet juga nggak papa sih. Abang gua kayaknya siap-siap
aja. Huahaha.”
Kalimat tersebut lagi-lagi diikuti dengan balasan
titik-titik banyak dari saya, plus sebuah straight-faced
emoticon. Obrolan mengenai “perjodohan” itu berhenti sampai di situ dan
berlanjut dengan obrolan lain. Saya tidak begitu paham perihal
memperkenalkan-diperkenalkan dengan lelaki. Dan bisa dibilang tidak terlalu
berminat juga dengan sesuatu yang berkesan “dijodohkan” seperti itu. Bagi saya,
jatuh cinta itu hanya ketika kita sudah tahu benar sifat, karakter dan latar belakang seseorang seperti apa, lalu merasa klop secara personal, baru kita kemudian mengizinkan hati kita untuk merasa cinta. Tidak boleh
sembarangan jatuh. Bahkan pada orang yang tepat sekalipun, yang namanya jatuh tidak boleh terlalu.
Entah sejak kapan saya jadi orang yang logikal seperti ini. Mungkin karena
pengalaman masa lalu yang terlalu mengedepankan rasa, membawa ke dalam akhir
yang tidak diinginkan. Atau memang atas kesadaran bahwa sudah waktunya untuk sangat berhati-hati memilih
pasangan, karena umur yang semakin beranjak dewasa.
Sementara itu, pembicaraan dengan Tian menyimpang ke topik
lain, sampai pada pembahasan yang dimulai oleh Tian sendiri, mengenai wanita
yang sedang ditaksirnya. Dan, tidak beruntungnya, wanita itu adalah kekasih
orang lain. Kasus cinta seperti ini, entah bagaimana, tidak pernah dapat diterima oleh pemikiran saya yang selalu berusaha mendahulukan logika ketimbang perasaan.
“Kamu kenapa bisa suka? Udah tahu itu pacarnya orang,” tanya
saya lugu dengan tetap menggunakan kata ganti aku-kamu yang biasa digunakan
dalam pergaulan sehari-hari saya di Yogyakarta, meski dengan lawan bicara yang
menggunakan lo-gua.
“Because she is my
supplement.”
“Huft. Nggak boleh, Tian.” Saya berusaha mengingatkan dengan
halus, karena sebenarnya bagaimanapun juga itu haknya untuk menyukai siapapun.
“Hati-hati kalau bermain hati.”
“Iya, makanya gua nunggu. Bagi lelaki lebih baik menunggu
daripada mendapatkan wanitanya dengan cara yang tidak lelaki.”
“Kamu nungguin dia putus?” tanya saya terkejut.
“Yah, mau gimana lagi...”
“Kalau misal ternyata dia sampai nikah sama pacarnya, kamu
mau gimana?”
“Ya balik kanan bubar jalan.”
“Kamu nggak mau mencoba berpikir kalau kamu sebenernya
ditakdirkan sama orang lain yang lebih baik? Mungkin kamu cuma belum nemu aja.”
Status “online” Tian di WhatsApp menghilang. Mungkin dia
sedang meletakkan ponselnya dan melakukan hal lain. Maka saya pun mengunci
ponsel saya sembari melanjutkan membaca halaman lanjutan buku Tere Liye yang
tertunda. Baru saja menyelesaikan satu halaman, ponsel saya kembali bergetar
tanda ada pesan WhatsApp masuk. Dari Tian.
“Lo pernah nggak ngerancang masa depan lo sama orang lain
sebelum tidur?”
“I have. And it’s
always with her...” sambungnya.
Saya terdiam beberapa saat. Memikirkan kalimat yang tepat
untuk membalasnya. Ya, saya memang sering merancang masa depan dengan seseorang
– bahkan selalu. Saya tidak pernah sekalipun menjalani hubungan tanpa rencana
yang jelas ke depannya dengan orang tersebut. Tapi merencanakan masa depan
dengan orang yang bahkan tidak kamu miliki, oh, are you kidding?
“Hmmm, yep.
Tapi itu cuma aku lakukan sama seseorang yang pasti. Dan
orang itu, juga melakukan hal yang sama terhadapku. If he doesn’t, it means I’m just wasting my time. Aku akan lebih
memilih untuk memperbaiki hidupku, memantaskan diri untuk siapapun yang
nantinya datang. Itu akan membuatku merasa lebih baik sih.”
Saya membaca ulang balasan yang cukup panjang itu ke Tian,
khawatir kalimat saya menyinggung perasaannya, atau dia merasa disudutkan.
Cepat-cepat saya menambahkan “hahaha” satu menit setelah pesan sebelumnya
dikirim. Beruntung saat itu status “online” Tian sedang menghilang lagi.
Selang tiga menit, setelah saya sedikit melanjutkan membaca
buku, Tian membalas.
“Lo cewek. Bagus kalau lo kayak gitu. Tapi kalau cowok,
hasrat pengen memilikinya gede. Kalau gua, suka satu orang ya susah nengok ke
kiri kanan.”
Hampir saya membalas kalimat Tian yang - lagi-lagi – sangat
bertolak belakang dengan pemikiran saya, pun dengan analisis yang dulu pernah
didiskusikan bersama teman dekat saya yang juga seorang lelaki, tapi saya
urungkan. Menurut pandangan teman lelaki saya tersebut, ketika seorang pria
memang belum mampu memiliki atau bahkan menafkahi wanita, ada baiknya pria
tersebut menjaga hati serta egonya. Ego yang dimaksud adalah rasa ingin
memiliki. Karena ketika pria sudah dipenuhi ego, maka janji-janji manis (yang
belum tahu dapat ditepati atau tidak) lah yang terumbar. Padahal bisa jadi
dirinya sendiri juga belum yakin. Yang terpenting adalah mereka mendapatkan apa yang
diinginkan untuk sekarang.
“Hahaha. Kenapa malah jadi curhat deh,” pesan WhatsApp dari
Tian membuyarkan lamunan saya.
“Entah ya. Mungkin berbeda,” balas saya singkat tanpa
berniat untuk kembali berargumen. "Well,
pembelajaran kan bisa datang dari mana aja. Termasuk pengalaman orang lain.”
“Kalau gua sih yakin dia yang cocok buat gua. Nggak sekedar
ngelengkapin, tapi bikin gua lebih kuat. Masalah jodoh, yah, maradona deh.”
“Hehe. Baguslah kalau kamu punya keyakinan yang baik. Semoga
keyakinan dan doanya membuahkan hasil ya.”
“:)”
Pembicaraan serius kami tidak berlanjut setelah itu dan beberapa menit setelahnya layar pesan WhatsApp saya hanya berisi gurauan tidak penting dengan Tian. Begitu mengakhiri percakapan karena sudah tidak tahu harus membahas apa lagi,
saya pun menutup ponsel dan melanjutkan membaca buku. Namun pikiran saya
masih menerawang, bahkan sampai saya kembali pulang ke kos.
Mengapa ada orang yang bisa jatuh ke hati yang tidak seharusnya
dimiliki dan memilih untuk menunggu dalam ketidakpastian?
Tapi, jatuh ke hati orang yang menurut kita tepat juga belum
berarti kita berjalan dalam kepastian bukan?
Apa orang yang menurut kita tepat karena mampu memberi kepastian juga benar-benar bisa memberi kepastian? Bagaimana kita bisa tahu bahwa itu bukan janji manis semata yang dilandasi ego ingin memiliki?
Mungkin semua di dunia ini memang berupa ketidakpastian.
Berupa kemungkinan-kemungkinan dan pertanyaan-pertanyaan tak berujung.
Ah, entahlah. Saya ingin tidur saja. Biar waktu dan Tuhan
yang menjawab. Sometimes it's better to leave some
questions unanswered, no?
***

No comments:
Post a Comment