Monday, 23 March 2015

"Hati-hati kalau bermain hati."


Senja yang berawan. Saya sedang menghabiskan waktu membaca buku sambil sesekali menyesap secangkir kopi putih dan menyuap spaghetti di sebuah kafe. Tujuan saya mencari kafe sore itu selain untuk mengisi perut, memang untuk menikmati me-time. Sudah lama sekali sejak terakhir kali saya menyendiri dengan buku da secangkir minuman hangat. Sore yang dingin ini adalah waktu yang tepat, pikir saya, karena kebetulan saya juga ingin rehat sejenak setelah mengerjakan beberapa pekerjaan di depan laptop.

Kafe tempat saya duduk itu sepi. Pengunjungnya hanya saya seorang. Entah karena kafe tersebut terhitung masih baru sehingga belum banyak orang ke sana, atau memang sebagian besar orang lebih memilih untuk menghabiskan waktu di kamar dalam cuaca seperti itu. Saya tidak peduli. Memang bukan keramaian yang saya cari. Saya bahkan tidak memperhatikan tetes gerimis air hujan yang mulai jatuh ringan, membuat pola titik-titik pada motor dan helm saya yang di parkir tepat di depan kafe. Terlalu asik tenggelam dalam dunia sendiri dengan buku novel fiksi koleksi baru saya - yang dihadiahkan seorang teman dekat ketika saya wisuda bulan lalu namun baru sempat saya sentuh beberapa hari ini. Sampulnya bergambar daun besar, karya penulis ternama, Tere Liye.

Saya baru akan membalik halaman ketika tiba-tiba sebuah notifikasi pesan WhatsApp mengusik fokus saya. Rupanya dari seorang teman lama, sebut saja Tian. Sedikit heran, mengapa tiba-tiba ia men-japri saya dan menanyakan apakah saya akan balik ke Bekasi setelah lulus ini atau tidak.

“Belum, Yan. Masih ada yang harus kukerjakan di Jogja. Kenapa tiba-tiba nanya gitu?”

“Lo jangan marah tapi ya.”


“Eh? Kenapa?” tanya saya semakin heran.



“Ada temen kantor gua mau kenalan. Hahaha. Temen sepermainan,” balasnya dengan menyertakan emoticon tertawa sampai berair mata - atau menangis bahagia? Entahlah. Yang jelas kalimat tersebut hanya diikuti balasan berupa titik-titik banyak dari saya, yang menandakan saya bingung harus menjawab apa. Yang dimaksud kantor Tian adalah sebuah kantor badan pemerintah yang bergerak di bidang jasa keuangan. Dari cerita yang saya dengar sewaktu bertemu Tian beberapa bulan lalu, kantor tersebut sangat banyak diminati oleh fresh graduate karena gaji pokoknya yang besar.

Dia bercerita bahwa temannya tertarik begitu melihat foto saya di daftar teman Facebook-nya, lalu memintanya untuk diperkenalkan pada saya.

“Ho’oh. Tiba-tiba aja manggil gua terus nanyain lo.”

Hajar wesss. Masa depan terjamin sama anak O*K. Hahaha,” sambungnya.

Saya tidak berniat menanggapi obrolan Tian dengan terlalu serius – malah lebih banyak diselipi gurauan. Tapi saya juga tidak semerta-merta membentengi diri lalu melarangnya memberikan kontak pada temannya itu. Tidak ada salahnya membuka pintu untuk berrelasi lebih luas lagi, pikir saya.

“Ya udah, kalau mau kenalan ya kenalan aja. Temenan dulu.”

“Tapi jangan di-friend zone-in si Abang gua.”

“Lah, friend zone gimana? Aku belum berencana menikah dalam waktu dekat lho.”

“Waelah, sampe sejauh itu. Perasaan di Twitter ngomongin jodoh mulu. Hahaha.”

“Laaah, itu mah mengikuti selera pasar aja. Nggak ngebet-ngebet banget kok.”

“Ngebet juga nggak papa sih. Abang gua kayaknya siap-siap aja. Huahaha.”


Kalimat tersebut lagi-lagi diikuti dengan balasan titik-titik banyak dari saya, plus sebuah straight-faced emoticon. Obrolan mengenai “perjodohan” itu berhenti sampai di situ dan berlanjut dengan obrolan lain. Saya tidak begitu paham perihal memperkenalkan-diperkenalkan dengan lelaki. Dan bisa dibilang tidak terlalu berminat juga dengan sesuatu yang berkesan “dijodohkan” seperti itu. Bagi saya, jatuh cinta itu hanya ketika kita sudah tahu benar sifat, karakter dan latar belakang seseorang seperti apa, lalu merasa klop secara personal, baru kita kemudian mengizinkan hati kita untuk merasa cinta. Tidak boleh sembarangan jatuh. Bahkan pada orang yang tepat sekalipun, yang namanya jatuh tidak boleh terlalu.


Entah sejak kapan saya jadi orang yang logikal seperti ini. Mungkin karena pengalaman masa lalu yang terlalu mengedepankan rasa, membawa ke dalam akhir yang tidak diinginkan. Atau memang atas kesadaran bahwa sudah waktunya untuk sangat berhati-hati memilih pasangan, karena umur yang semakin beranjak dewasa.


Sementara itu, pembicaraan dengan Tian menyimpang ke topik lain, sampai pada pembahasan yang dimulai oleh Tian sendiri, mengenai wanita yang sedang ditaksirnya. Dan, tidak beruntungnya, wanita itu adalah kekasih orang lain. Kasus cinta seperti ini, entah bagaimana, tidak pernah dapat diterima oleh pemikiran saya yang selalu berusaha mendahulukan logika ketimbang perasaan.

“Kamu kenapa bisa suka? Udah tahu itu pacarnya orang,” tanya saya lugu dengan tetap menggunakan kata ganti aku-kamu yang biasa digunakan dalam pergaulan sehari-hari saya di Yogyakarta, meski dengan lawan bicara yang menggunakan lo-gua.


Because she is my supplement.”


“Huft. Nggak boleh, Tian.” Saya berusaha mengingatkan dengan halus, karena sebenarnya bagaimanapun juga itu haknya untuk menyukai siapapun. “Hati-hati kalau bermain hati.”

“Iya, makanya gua nunggu. Bagi lelaki lebih baik menunggu daripada mendapatkan wanitanya dengan cara yang tidak lelaki.”


“Kamu nungguin dia putus?” tanya saya terkejut.


“Yah, mau gimana lagi...”

“Kalau misal ternyata dia sampai nikah sama pacarnya, kamu mau gimana?”

“Ya balik kanan bubar jalan.”

“Kamu nggak mau mencoba berpikir kalau kamu sebenernya ditakdirkan sama orang lain yang lebih baik? Mungkin kamu cuma belum nemu aja.”

Status “online” Tian di WhatsApp menghilang. Mungkin dia sedang meletakkan ponselnya dan melakukan hal lain. Maka saya pun mengunci ponsel saya sembari melanjutkan membaca halaman lanjutan buku Tere Liye yang tertunda. Baru saja menyelesaikan satu halaman, ponsel saya kembali bergetar tanda ada pesan WhatsApp masuk. Dari Tian.

“Lo pernah nggak ngerancang masa depan lo sama orang lain sebelum tidur?”

I have. And it’s always with her...” sambungnya.

Saya terdiam beberapa saat. Memikirkan kalimat yang tepat untuk membalasnya. Ya, saya memang sering merancang masa depan dengan seseorang – bahkan selalu. Saya tidak pernah sekalipun menjalani hubungan tanpa rencana yang jelas ke depannya dengan orang tersebut. Tapi merencanakan masa depan dengan orang yang bahkan tidak kamu miliki, oh, are you kidding?

“Hmmm, yep.

Tapi itu cuma aku lakukan sama seseorang yang pasti. Dan orang itu, juga melakukan hal yang sama terhadapku. If he doesn’t, it means I’m just wasting my time. Aku akan lebih memilih untuk memperbaiki hidupku, memantaskan diri untuk siapapun yang nantinya datang. Itu akan membuatku merasa lebih baik sih.”

Saya membaca ulang balasan yang cukup panjang itu ke Tian, khawatir kalimat saya menyinggung perasaannya, atau dia merasa disudutkan. Cepat-cepat saya menambahkan “hahaha” satu menit setelah pesan sebelumnya dikirim. Beruntung saat itu status “online” Tian sedang menghilang lagi.

Selang tiga menit, setelah saya sedikit melanjutkan membaca buku, Tian membalas.

“Lo cewek. Bagus kalau lo kayak gitu. Tapi kalau cowok, hasrat pengen memilikinya gede. Kalau gua, suka satu orang ya susah nengok ke kiri kanan.”

Hampir saya membalas kalimat Tian yang - lagi-lagi – sangat bertolak belakang dengan pemikiran saya, pun dengan analisis yang dulu pernah didiskusikan bersama teman dekat saya yang juga seorang lelaki, tapi saya urungkan. Menurut pandangan teman lelaki saya tersebut, ketika seorang pria memang belum mampu memiliki atau bahkan menafkahi wanita, ada baiknya pria tersebut menjaga hati serta egonya. Ego yang dimaksud adalah rasa ingin memiliki. Karena ketika pria sudah dipenuhi ego, maka janji-janji manis (yang belum tahu dapat ditepati atau tidak) lah yang terumbar. Padahal bisa jadi dirinya sendiri juga belum yakin. Yang terpenting adalah mereka mendapatkan apa yang diinginkan untuk sekarang.

“Hahaha. Kenapa malah jadi curhat deh,” pesan WhatsApp dari Tian membuyarkan lamunan saya.

“Entah ya. Mungkin berbeda,” balas saya singkat tanpa berniat untuk kembali berargumen. "Well, pembelajaran kan bisa datang dari mana aja. Termasuk pengalaman orang lain.”

“Kalau gua sih yakin dia yang cocok buat gua. Nggak sekedar ngelengkapin, tapi bikin gua lebih kuat. Masalah jodoh, yah, maradona deh.”

“Hehe. Baguslah kalau kamu punya keyakinan yang baik. Semoga keyakinan dan doanya membuahkan hasil ya.”

“:)”

Pembicaraan serius kami tidak berlanjut setelah itu dan beberapa menit setelahnya layar pesan WhatsApp saya hanya berisi gurauan tidak penting dengan Tian. Begitu mengakhiri percakapan karena sudah tidak tahu harus membahas apa lagi, saya pun menutup ponsel dan melanjutkan membaca buku. Namun pikiran saya masih menerawang, bahkan sampai saya kembali pulang ke kos.

Mengapa ada orang yang bisa jatuh ke hati yang tidak seharusnya dimiliki dan memilih untuk menunggu dalam ketidakpastian?

Tapi, jatuh ke hati orang yang menurut kita tepat juga belum berarti kita berjalan dalam kepastian bukan?

Apa orang yang menurut kita tepat karena mampu memberi kepastian juga benar-benar bisa memberi kepastian? Bagaimana kita bisa tahu bahwa itu bukan janji manis semata yang dilandasi ego ingin memiliki?

Mungkin semua di dunia ini memang berupa ketidakpastian. Berupa kemungkinan-kemungkinan dan pertanyaan-pertanyaan tak berujung.


Ah, entahlah. Saya ingin tidur saja. Biar waktu dan Tuhan yang menjawab. Sometimes it's better to leave some questions unanswered, no?



***





No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...