Iri takkan membawamu ke mana.
Jika kau ingin, maka berusahalah.
Jika belum tercapai, maka bersabarlah.
Perlahan tapi pasti.
Bukan cepat lalu terhenti.
Monday, 22 June 2015
Saturday, 28 March 2015
Mengejar Mimpi, Sekarang atau Nanti?
Ditulis Oktober 2014.
Cerita ini bermula dari sebuah percakapan di jejaring sosial dengan seorang teman satu jurusan saya yang kebetulan sudah wisuda dua bulan lalu dan kini sudah bekerja di salah satu kantor konsultan arsitek di Jakarta. Saat itu, selepas petang, kami berbincang mengenai banyak hal, mulai dari tugas akhir hingga cita-cita selepas lulus kuliah.
"Kamu rencana mau nyari kerja di kota A apa di kota B nanti, Nya?" tanyanya membuka percakapan serius tersebut.
"Abis wisuda aku kepingin langsung nyari beasiswa S2 sih rencananya."
"Woh, mantap. Kamu nggak mau kerja dulu aja? Siapa tau S2-nya bisa dibiayain perusahaan. Aku sih kerja dulu di Jakarta, Nya."
"Hahaha. Awalnya aku juga mikir gitu. Tapi mumpung lagi semangat-semangatnya nih. Toh kalau dapet beasiswa juga dibayarin, kan?" ujar saya tanpa ragu.
"Soalnya aku mau ambil S2 DKV prodi graphic design atau digital design, biar nanti bisa langsung kerja di advertising atau semacamnya," tambah saya.
Menjadi seorang desainer visual sudah menjadi impian saya sejak lama. Bahkan ketika saya masih sekolah dulu, sering sekali saya menulis "komikus" atau "animator" sebagai cita-cita saya. Meskipun saat itu bahkan saya belum tahu benar seperti apa pekerjaan komikus dan animator.
Cerita ini bermula dari sebuah percakapan di jejaring sosial dengan seorang teman satu jurusan saya yang kebetulan sudah wisuda dua bulan lalu dan kini sudah bekerja di salah satu kantor konsultan arsitek di Jakarta. Saat itu, selepas petang, kami berbincang mengenai banyak hal, mulai dari tugas akhir hingga cita-cita selepas lulus kuliah.
"Kamu rencana mau nyari kerja di kota A apa di kota B nanti, Nya?" tanyanya membuka percakapan serius tersebut.
"Abis wisuda aku kepingin langsung nyari beasiswa S2 sih rencananya."
"Woh, mantap. Kamu nggak mau kerja dulu aja? Siapa tau S2-nya bisa dibiayain perusahaan. Aku sih kerja dulu di Jakarta, Nya."
"Hahaha. Awalnya aku juga mikir gitu. Tapi mumpung lagi semangat-semangatnya nih. Toh kalau dapet beasiswa juga dibayarin, kan?" ujar saya tanpa ragu.
"Soalnya aku mau ambil S2 DKV prodi graphic design atau digital design, biar nanti bisa langsung kerja di advertising atau semacamnya," tambah saya.
Menjadi seorang desainer visual sudah menjadi impian saya sejak lama. Bahkan ketika saya masih sekolah dulu, sering sekali saya menulis "komikus" atau "animator" sebagai cita-cita saya. Meskipun saat itu bahkan saya belum tahu benar seperti apa pekerjaan komikus dan animator.
Monday, 23 March 2015
"Hati-hati kalau bermain hati."
Senja yang berawan. Saya sedang menghabiskan waktu membaca buku sambil sesekali menyesap secangkir kopi putih dan menyuap spaghetti di sebuah kafe. Tujuan saya mencari kafe sore itu selain untuk mengisi perut, memang untuk menikmati me-time. Sudah lama sekali sejak terakhir kali saya menyendiri dengan buku da secangkir minuman hangat. Sore yang dingin ini adalah waktu yang tepat, pikir saya, karena kebetulan saya juga ingin rehat sejenak setelah mengerjakan beberapa pekerjaan di depan laptop.
Kafe tempat saya duduk itu sepi. Pengunjungnya hanya saya seorang. Entah karena kafe tersebut terhitung masih baru sehingga belum banyak orang ke sana, atau memang sebagian besar orang lebih memilih untuk menghabiskan waktu di kamar dalam cuaca seperti itu. Saya tidak peduli. Memang bukan keramaian yang saya cari. Saya bahkan tidak memperhatikan tetes gerimis air hujan yang mulai jatuh ringan, membuat pola titik-titik pada motor dan helm saya yang di parkir tepat di depan kafe. Terlalu asik tenggelam dalam dunia sendiri dengan buku novel
fiksi koleksi baru saya - yang dihadiahkan seorang teman dekat ketika saya wisuda bulan lalu namun
baru sempat saya sentuh beberapa hari ini. Sampulnya
bergambar daun besar, karya penulis ternama, Tere Liye.
Saya baru akan membalik halaman ketika tiba-tiba sebuah
notifikasi pesan WhatsApp mengusik fokus saya. Rupanya dari seorang teman lama,
sebut saja Tian. Sedikit heran, mengapa tiba-tiba ia men-japri saya dan menanyakan apakah saya akan balik ke Bekasi setelah
lulus ini atau tidak.
“Belum, Yan. Masih
ada yang harus kukerjakan di Jogja. Kenapa tiba-tiba nanya gitu?”
“Lo jangan marah tapi ya.”
“Eh? Kenapa?” tanya saya semakin heran.
Friday, 21 February 2014
Monday, 3 February 2014
Saturday, 1 February 2014
Kalau Ikut Kuis Kepribadian Ini, Kamu Bisa Jadi Harry Potter
Belakangan ini banyak banget yang nge-share link tes kepribadian gitu di media sosial. Dan itu semua mengundang rasa penasaran Kanya si gadis lugu nan kepo ini untuk nyoba. Kan nggak keren aja gitu kayaknya, yang lain pada nge-share terus cuma kamu sendiri yang nggak ikutan. Nanti dicap cupu. Atau sial-sialnya malah diasingkan dari pergaulan terus diarak keliling desa gara-gara nggak ikut tes.
Tes-tes kayak gitu tuh semakin hari semakin beragam. Dulu padahal waktu masih sekolah, sekitar empat tahun yang lalu, zaman lagi rame-ramenya kuis di Facebook, soal kuisnya paling cuma kisaran "termasuk siswa yang seperti apakah kamu?" atau "pekerjaan apakah yang cocok di masa depan?" Tapi sekarang karena udah makin banyak yang ikutan bikin kuis, makin banyak saingan, jadi para pembuat kuis mulai mikir gimana caranya biar orang-orang tetep ikutan kuis mereka. Akhirnya dibuatlah soal yang unik-unik. Biasanya sih dikaitin sama film-film gitu. Soalnya jenis film kan bertambah terus, jadi idenya juga nggak bakal abis. Judul kuisnya pun dibikin seseru mungkin, misalnya kayak "termasuk karakter di Harry Potter yang manakah kamu?" sampe "termasuk spesies langka apakah kamu?" atau "termasuk halaman skripsi berapakah kamu?"
Yakeleus.
Secara pribadi, saya emang paling seneng sih ikut tes kepribadian kayak gini. Mulai dari tes kepribadian yang teruji kayak yang ada di buku-buku atau MBTI (Myers-Briggs Test Indicator) udah pernah dicoba. Apalagi yang cuma iseng-iseng, yang ngerjainnya cuma beberapa menit. Itung-itung buat lebih mengenal diri sendiri lah. Karena nggak bisa mengerti diri sendiri itu nggak enak. Kan nggak lucu kalo kamu ngertinya kamu tuh Power Renjes, eh ternyata kamu sebenernya Satria Baja Hitam.
Buat yang jarang atau belum pernah ikutan kuis kepribadian, coba deh sekali-sekali ikut. Soal tesnya nggak susah kok. Biasanya paling cuma nyangkut kehidupan sehari-hari aja. Jawabnya juga nggak perlu dibuat-buat, cukup ngalir aja apa yang kamu rasa paling sreg sama diri kamu.
Misalnya soal kayak gini:
Terus kamu bisa dapetin hasil kayak gini. Hore.
Format layout kuisnya juga nggak semuanya ngebosenin kok. Ada yang visualnya didesain semenarik mungkin, dikasih foto, meskipun kadang nggak nyambung sama soalnya. Masak soalnya unyu-unyu gambarnya nyeremin gini:
Tapi tetep hasilnya lumayan memuaskan kok. Yah, paling enggak, si pembuat kuis udah berbaik hati mau mirip-miripin kamu sama Harry Potter. Kapan lagi di dunia nyata kamu bisa ngaku-ngaku setipe sama Harry Potter tanpa disiram sebaskom londrian sama tetangga kos?
---------------
Nih, buat yang mau iseng ikutan kuisnya.
Untuk kuis "Which Which" yang lainnya cari aja di Google ya. Bye. :*
Monday, 9 December 2013
Inginku Bernyanyi, Malah Toples Kubawa Pulang
Rencana awal sih mau nyanyik kolaborasi digitarin sama temen di acara akustikan kampus, tapi ternyata acaranya malah dangdutan.
Kemudian yang terjadi malah.......
![]() |
| Lomba goyang Caesar. Alias ada kesalahpahaman antara "akustikan" sama "dangdutan" sama penyedia musiknya. OK. |
![]() |
| ...malah juara joget terheboh. Dapet hadiah. Toples. Bentar SMS emak dulu sapa tau butuh. |
Gitu deh.
Bye. ( ._. )
*nenteng toples*
Subscribe to:
Posts (Atom)









