Hari itu, hari Sabtu pagi yang
cerah, diwarnai dengan keceriaan di wajah puluhan mahasiswa dan mahasiswi
Teknik Arsitektur UGM yang hendak melakukan simulasi kuliah Aksesibilitas. Simulasi
hari itu tidak hanya dilakukan oleh peserta kuliah Aksesibilitas saja namun
juga bersama-sama dengan mahasiswa dan mahasiswi dari jurusan Arsitektur UNS. Dari
pertama saya menginjakkan kaki di kampus, saya melihat sudah banyak teman-teman
yang mencoba bersimulasi sendiri dengan alat-alat difabel yang ada. Namun,
simulasi kami yang sesungguhnya hari itu baru dimulai agak siang setelah
rombongan mahasiswa dan guru dari Solo datang lalu melakukan briefing bersama.
Seluruh
peserta simulasi dibagi ke dalam kelompok beranggotakan sembilan orang.
Masing-masing kelompok diberikan satu kursi roda, satu kruk dan satu tongkat
tuna netra yang nantinya dipakai bergantian oleh anggotanya. Tempat yang
nantinya akan kita datangi pada simulasi adalah Perpustakaan Pusat UGM, Masjid
Kampus, kemudian Malioboro. Kelompok kami menentukan membagi sembilan orang
anggota menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil beranggotakan tiga orang per
satu alat dan di setiap pergantian tempat, setiap tiga orang tersebut akan
bergantian alat dengan tiga orang lainnya sehingga seluruh anggota merasakan
pengalaman menjadi difabel seluruhnya.
Tempat pertama, Perpustakaan Pusat UGM.
Pengalaman difabel pertama dan kedua: MENJADI ORANG LUMPUH/PENGGUNA
KURSI RODA DAN PENDERITA TUNA NETRA
Gedung Perpustakaan Pusat UGM
termasuk salah satu gedung yang baru di kampus kami dan tampaknya masih dalam
tahap penyempurnaan. Dibandingkan bangunan-bangunan kampus lainnya yang berusia
puluhan tahun, Perpustakaan ini menyediakan perhatian yang lebih terhadap kaum
difabel dilihat dari adanya fasilitas-fasilitas penunjang yang disediakan
seperti toilet khusus difabel di area utama, huruf braille di panel tombol lift
dan pada papan penunjuk arah, handrail pada lift, ramps untuk orang dengan
kursi roda di beberapa bagian gedung dan sebagainya. Eits, tetapi “tersedia”
bukan berarti “sempurna”. Sebelumnya saya memang sudah pernah mensurvei
bangunan Perpustakaan UGM ini sebagai objek untuk tugas mid semester Aksesibilitas yang dikirimkan untuk kompetisi internasional
Berkeley Prize, namun ternyata dengan diadakannya simulasi ini semakin
memperkuat feeling saya akan
kekurangan-kekurangan pada fasilitas tersebut.
Menaiki kursi roda, mungkin
terdengar sangat menyenangkan karena alat yang satu ini lebih tidak banyak
menggunakan tenaga dibandingkan alat lainnya yaitu kruk dan tongkat tuna netra,
apalagi jika kursi rodanya ada yang mendorong. Tapi jangan salah, pengguna
kursi roda juga harus memiliki “skill”
yang mumpuni dalam dunia per-kursiroda-an. Saya sebagai pe-kursi-roda (orang
yang menggunakan kursi roda) awam, sangat sulit untuk mengontrol kursi roda
terutama pada jalan yang sempit. Jadi… Jangan salahkan saya kalau saya lewat
lalu kaki beberapa teman atau bahkan properti Perpustakaan menjadi korban
tabrak lari. Untungnya tidak ada yang benar-benar tertabrak dengan keras lalu
rusak sih, kalau ada mungkin beberapa hari setelah itu saya harus menyisihkan
dengan sukarela sedikit uang bulanan untuk mengganti rugi.
Kesulitan demi kesulitan saya
rasakan dan kesulitan paling besar yang saya alami adalah ketika memasuki
toilet difabel. Sudah jalannya masuknya sempit (dan karena skill kursi roda saya masih level kacang sehingga menabrak sana
sini), ditambah lagi dengan pintu geser toilet
difabel yang berat sekali untuk digeser sehingga membutuhkan bantuan orang lain.
Pintu geser yang berat itu tidak hanya dirasakan oleh saya, namun juga pengguna
kursi roda yang lain (baca: peserta simulasi yang pura-pura jadi pengguna kursi
roda). Saya berpikir, lalu bagaimana dengan penderita difabel sungguhan yang
hendak masuk? Syukur kalau dia ditemani oleh orang yang dapat membantu
membukakan, bagaimana kalau tidak? Bukankah itu akan sangat menyulitkannya? Dan
bagaimana kalau dia sudah sangat ingin buang air dan tidak bisa ditahan lagi?
Kasihan sekali, kan.
Kesulitan selanjutnya saya temui,
masih di toilet difabel, adalah saat mengatur posisi dari masuk pintu toilet
hingga naik ke atas closet. Di sana hanya tersedia ruang yang tidak terlalu besar untuk maju-mundur dan
berputarnya kursi roda jadi saya harus berkali-kali bergerak dalam
memposisikan kursi roda, tidak bisa sekali jalan masuk, naik ke closet lalu berputar dan keluar. Tidak
semudah itu. Mungkin karena lagi-lagi skill
kursi roda saya yang belum memenuhi kualifikasi, atau mungkin memang toilet itu
yang kurang mendukung aktifitas difabel, entahlah. Mungkin nanti saya akan tahu
ketika melihat pengguna kursi roda yang asli memasuki toilet itu.
Perjalanan saya sebagai pengguna
kursi roda tidak panjang karena tidak lama kemudian saya harus bergantian
dengan anggota kelompok yang lain. Perjalanan yang cukup singkat itu saja sudah
menyita cukup banyak energi dan keringat, saya jadi berpikir sepertinya kursi
roda ini cocok untuk dijadikan salah satu cabang olahraga baru. Oke, hanya bercanda.
| Saya ditemani dengan dua orang “perawat dadakan” yang cantik-cantik dari Arsitektur UNS. |
| Dua orang teman yang sedang kesulitan memposisikan kursi roda di dalam lift. Harap abaikan pantulan di kaca. |
Di Perpustakaan saya juga sempat
mencoba menjadi penderita tuna netra dan berjalan sendiri. Tanpa rencana, sebenarnya,
karena saat itu bukan giliran saya yang memegang alat tongkat tuna netra. Namun
karena rasa penasaran saya cukup tinggi akhirnya saya berjalan sendiri dengan
meraba-raba dinding dan handrail
terdekat yang dapat saya raih.
“Kanya, berani banget nggak ada
yang nemenin,” komentar salah satu teman saya yang saya lupa siapa (jangan
tanya kenapa karena saya saat itu sedang berpura-pura jadi tuna netra).
Salah satu teman yang baik hati akhirnya
bersukarela membantu tuna netra dadakan yang sedikit nekat ini. Saya pun
mencoba untuk menuruni tangga dari lantai tiga ke lantai dasar dibantu olehnya.
Ada rasa deg-degan dan waswas pada setiap langkah, menduga-duga apakah masih
ada anak tangga atau tidak yang harus dilangkahi. Poin penting ketika menjadi
tuna netra adalah kepekaan yang harus selalu diandalkan serta menjadi modal
utama untuk mengenali lingkungan. Indera peraba dan penciuman sangat
berpengaruh dalam beradaptasi dengan lingkungan sekitar.
| Ini bukan saya, tapi kira-kira beginilah wujud (mahasiswi yang berpura-pura menjadi) penderita tuna netra. |
| Meskipun tidak bisa melihat yang penting harus selalu bahagia. |
| Begini cara membantu penderita tuna netra berjalan, letakkan tangan penderita tuna netra di bahumu, bukan di tempat lain. |
Tempat kedua, Masjid Kampus UGM.
Pengalaman difabel ketiga:
MENJADI ORANG YANG KESULITAN BERJALAN/PENGGUNA KRUK.
Seusai menjelajahi gedung Perpustakaan Pusat UGM hingga ke
lantai atas, seluruh mahasiswa dan mahasiswi melanjutkan petualangan
disabilitas ini ke Masjid Kampus UGM. Dalam perjalanan yang tidak boleh membawa
kendaraan ini, saya mencoba untuk menggunakan kruk atau alat bantu berjalan.
Awalnya saya melihat teman-teman yang berjalan menggunakan kruk ini tampaknya
menyenangkan juga karena berjalannya dengan bantuan kruk. Dan begitu saya
mencobanya beberapa langkah rupanya memang benar-benar…. Melelahkan.
Ternyata berjalan dengan menggunakan kruk malah memperlambat
jalan saya. Memang kaki saya tidak terlalu banyak mengeluarkan tenaga karena
berjalan dibantu kruk, namun yang sesungguhnya menahan beban paling banyak
adalah lengan saya yang menjadi tumpuan di kiri dan kanan tubuh saya. Belum
setengah jalan menuju ke Masjid Kampus, saya sudah tidak kuasa berdiri.
Tiba-tiba mata saya mendadak buram dan kepala saya serasa berputar. Pandangan saya
sudah hampir berbayang sepenuhnya ketika Maya, teman yang mendampingi saya,
memegang tubuh saya agar tidak ambruk dan menuntun saya ke tepi jalan untuk
beristirahat. Hari itu adalah hari pertama periode bulanan saya. Sejujurnya,
dari simulasi pertama di Perpustakaan saya sudah merasakan tanda-tanda tidak
baik pada tubuh saya namun saya tetap memaksakan diri demi mengikuti simulasi
sampai akhir. Memang, pada hari-hari seperti itu sudah lumrah apabila penyakit
darah rendah saya kumat.
Beberapa teguk air mineral yang diberikan Maya sedikit
memberikan tenaga pada tubuh saya. Pak Harry, dosen Aksesibilitas yang menjadi
penanggung jawab simulasi hari itu pun diberitahu dan memberikan pilihan saya
untuk pulang saja atau melanjutkan simulasi. Tentu saja pilihan saya jatuh pada
yang kedua. Saya tidak mau melewatkan hari yang (mungkin) hanya akan saya alami
sekali seumur hidup itu. Akhirnya, Pak Harry menyarankan saya—yang menjadi
difabel sungguhan waktu itu—untuk diantar menggunakan motor ke Masjid Kampus. Fariz
yang saat itu membawa motor menjadi sasaran untuk dimintai tolong mengantar.
Duh, ternyata itulah tidak enaknya menjadi orang yang memiliki keterbatasan
fisik, sedikit merepotkan orang lain ya. Maafkan saya…
| Wajah hampir pingsan yang berusaha tersenyum meskipun berat. Aih. |
Tempat ketiga, Malioboro.
Pengalaman difabel selanjutnya:
TIDAK ADA
Berhubung kondisi saya sudah tidak memungkinkan dan saya
(untungnya) sudah mencoba ketiga jenis alat disabilitas yang ada, akhirnya pada
destinasi selanjutnya saya murni hanya menjadi pengamat merangkap fotografer. Berjalan
menyusuri jalan Malioboro dari benteng Vredeburg ke Mirota Batik saja sudah
cukup melelahkan. Sekali saya mencoba bersahabat dengan kruk yang membuat
kondisi saya drop itu. Hanya menyebrang jalan saja, setelah itu saya
mengucapkan salam perpisahan dengan baik-baik pada alat tersebut. Pengalaman
pada hari itu mengajarkan saya banyak hal. Mengenai kepedulian dan
prinsip-prinsip pada fasilitas difabel yang masih banyak diabaikan…
Terlebih lagi, saya merasakan apa yang tidak dapat dilihat
orang lain pada masyarakat minoritas berkekurangan itu. Saya merasakan “perasaan”
dan “suasana” yang dialami oleh penderita disabilitas. Bagaimana rasanya
menjadi pusat perhatian karena kami hari itu “berbeda”, bagaimana sebagian
orang hanya lewat dan acuh tanpa peduli apakah kami butuh bantuan atau tidak,
bahkan ada yang menggerutu di belakang saya dan teman saya pada saat saya
berjalan menggunakan kruk karena saya berjalan agak lama. Ternyata begitu
rasanya. Menyakitkan. Mulai saat itu, tekad saya pun semakin kuat untuk
menaikkan dan menyamakan derajat teman-teman difabel di luar sana. Karena
sesungguhnya kita semua sama. Bukan begitu?
bagaimana jika ini menjadi program simulasi difabel untuk banyak orang? rasanya menarik...
ReplyDeletesaya sih setuju :) mungkin kalau mau mengadakan simulasi semacam itu untuk masyarakat bisa kerjasama dengan organisasi ataupun pemerintah sekalian :)
Delete